AKU
Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya yang terbuang.
Aku kira, beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak, dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Penghabisan kali itu kau datang
Membawa karangan kembang mawar merah dan melati putih
Darah dan suci kau tebarkan depanku
Serta pandang yang memastikan untukmu
Sudah itu kita sama termangu,
Saling bertanya,
"Apakah ini?"
"Cinta?"
Keduanya tak mengerti
Sehari itu kita bersama
Tak hampir-menghampiri
Ah! Hatiku yang tak mau memberi.
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa.
Malam apalagi.
Ia menekuk ngeri, dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci dirinya dari segala yang minta perempuan untuk kawannya.
Bahaya dari tiap sudut mendekat juga dalam ketakutan, menanti ia menyebut satu nama.
Terkejut ia terduduk
Siapa memanggil itu?
Ah! lemah lesu ia tersedu
Ibu.. Ibu..
Kalau sampai waktuku, ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya yang terbuang
Biar peluru menembus kulitku,
Aku tetap menerjang, meradang
Luka dan bisa kubawa lari
Berlari hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Aku berkaca,
"Ini muka penuh luka"
"Siapa punya?"
Kudengar seru menderita dalam hatiku
"Apa hanya angin lalu?"
Lagu lain pula menggelepar tengah malam buta
Ah! segala menebal, segala mengental, segala tak ku kenal
Selamat tinggal.
Tuhanku..
Dalam termangu aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh
CayaMu panas suci tinggal kerdip lilin dikelam sunyi
Tuhanku..
Aku hilang bentuk remuk
Tuhanku..
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku..
DipintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
-Rewriting text from Chairil Anwar-

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas kritik dan sarannya.